Belajar Agama dengan Cinta



Oleh Idat Mustari*

NEWSLETTERJABAR.COM-- Belajar ilmu agama itu baik dan penting tapi belajarnya harus dengan cinta, dengan hati yang bening dan pikiran yang jernih.


Belajar ilmu agama itu bukan sekedar untuk menambah pengetahuan di kepala tetapi tak meresap di hati. Bukan pula untuk menambah diri merasa lebih baik, lebih soleh, lebih hebat dari orang lain melainkan untuk semakin menjernihkan pikiran dan membeningkan hati.


Untuk semakin menyadarkan diri atas dosa dan kesalahan  yang telah dilakukan dan semakin merundukan jiwa dan menigkatkan kesadaran untuk memohon pengampunan dari Maha Pengampun.


MH Ainun Najib, "Apa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang, sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung sampah-sampah. Apa gunanya kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian manusia sehingga ia makin sanggup memahami orang lain".


Imam abu hamid Muhammad bin Muhammad al Gozaliy dalam Kitab Ayyuhal Walad,  “ Wahai anakku, banyak sekali malam-malam yang kau hidupkan untuk mengulang-ulang ilmu, mempelajari kembali kitab-kitab dan kamu telah mengharamkan dirimu untuk tidur. Tanpa aku ketahui apa motifnya. Apabila untuk memperoleh kehormatan, rongsokan, jabatan-jabatan keduniawian dan untuk menyombongkan kepada sesama. Maka sangat celakalah kamu.
Jika tujuanmu untuk menghidupkan ajaran Nabi saw, memperbaiki akhlaqmu, menaklukan nafsumu yang banyak memerintahkan berbuat keburukan. Maka sangat beruntunglah dirimu. Tepat sekali orang yang bersyair: Terjaganya (tidak tidur) mata untuk selain-Mu itu sia-sia. Dan tangisannya bukan karena kehilangan-Mu (kesempatan ibadah) itu palsu.”


Dengan demikian jika ada  orang yang belajar agama baik dengan membaca buku yang ada di rumahnya dan atau  yang rajin mengikuti pengajian, hadir di majelis taklim ke majelis taklim lainnya tapi  tak merasakan keindahan dari agama, tak membuat hati semakin tentram, damai dan tak mencerahkan jiwa, bahkan sebaliknya malahan hati semakin resah, meresahkan. Kekotoran hati terus menempel dan tidak menyadari diri sebagai manusia yang tak luput dari dosa dan salah berarti ada yang salah pada orang itu dalam mempelajari agama. Dan boleh jadi orang itu adalah aku ataupun mungkin juga kamu.
Allahu’Alam (*)

*Pemerhati sosial, Agama dan Advokat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertemuan FORPIS dan Tokoh Masyarakat Garut Bahas Masa Depan Aktivitas Kepemudaan

Ahmad Bajuri : FORGAKI Gelar Konsolidasi Dukung Suskesnya Program Koperasi Merah Putih serta Revitalisasi di Jabar

Relawan Kujang Dewa Ucapkan Selamat dan Sukses, Dedi-Erwan Memimpin Jawa Barat