Pura-pura Tuli
Oleh Idat Mustari*
NEWSLETTERJABAR.COM-- Tak mudah berbicara sama orang yang benar-benar tuli dan atau pada orang yang pura-pura tuli. Ada orang yang pura-pura tuli bahkan dicap sebagai orang tuli beneran demi menutup aib seseorang seperti syech Hatim Al-Asham salah seorang ulama besar yang wafat di Baghdad, Irak tahun 852 M atau 237 H. Beliau digelari ‘al-asham’, berarti tuli, padahal sebenarnya tidak tuli. Gelar ini diperoleh karena peristiwa ketika suatu hari, seorang wanita datang ke tempat Hatim untuk menanyakan sesuatu.
Ketika melontarkan pertanyaannya di hadapan Hatim, belum selesai ia bertanya, wanita tadi tak kuasa untuk menahan kentutnya. Bunyinya terdengar jelas, hingga membuat ia salah tingkah dan terdiam. Di tengah kegalauan wanita itu, tiba-tiba Hatim berkata dengan suara keras. “Tolong bicara yang keras! Saya tuli,” Namun, yang bertanya justru bingung.
Dalam kebingungannya, ia kembali dikagetkan dengan suara keras Hatim. “Hai, keraskanlah suaramu, karena aku tidak mendengar apa yang kamu bicarakan,” teriak Hatim. Wanita tadi kemudian menduga bahwa Hatim ini seorang yang tuli. Ia pun merasa sedikit lega, karena suara kentutnya tidak didengar Hatim. Suasana kembali menjadi cair. Ia pun kembali mengulang pertanyaannya. Sejak saat itu, Hatim mendadak “menjadi tuli” dan bahkan ia melakukan hal tersebut selama wanita tadi masih hidup. Ya, demi menjaga perasaan dan kehormatan wanita itu, ia terus berpura-pura tuli selama 15 tahun. Ini adalah kisah pura-pura tuli yang dirahmati Allah SWT.
Tetapi ada juga pura-pura tuli yang dilaknat Allah SWT, yakni pada para mereka yang memiliki kekuasaan tapi pura-pura tuli hingga tak bisa mendengar teriakan rakyat yang menjerit karena kesulitan hidup.
Kesulitan berkomunikasi dengan orang yang benar-benar tuli ataupun pada orang yang pura-pura tuli, pun terjadi pada pengalaman seorang ustad mengusir 10 Kuntilanak.
Di sebuah kampung, ada seorang ustad yang sedang mengusir Kuntilanak. Yang menempati sebuah rumah salah satu penduduk.
Di dalam rumah itu, ada 10 Kuntilanak yang sering mengganggu yang punya rumah, Sang Ustad pun membaca beberapa surat Yasin dan beberapa ayat yang dalam Al quran.
Setelah selesai membaca Surat Yasin dan beberapa ayat pendek, 9 kuntilanak langsung ngacir lari terbirit –birit, tinggal satu kuntilanak lagi yanhg masih asik tidur- tiduran di kamar yang dalam rumah itu. Pak Ustad pun kembali membaca ayat Kursi dengan berulang-ulang, namun ssang Kuntilanak tetap tak beranjak dari kamar.
Pak Ustad kebingungan,”kenapa Hantu Kuntilanak tidak pergi-pergi juga?”
Tak berapa lama, 9 Kuntilanak yang sudah menghilang, ternyata balik lagi, sambil berbisik kepada Ustad: "Maaf Pak Ustad, temenku yang satu ini suka pura-pura tuli !”
Stop playing deaf! (*)
* Pemerhati Sosial, Agama dan advokat
Komentar
Posting Komentar