Mengaku Salah
Oleh Idat Mustari
Pengamat Sosial dan Advokat
NEWSLETTERJABAR.COM-- Tak sedikit orang yang tak menyadari kalau dirinya telah berbuat salah. Sudah jelas tangannya sedang dibakar api, masih saja berkata terasa diingin. Sudah jelas air laut yang diminunya masih saja berkata tak terasa asin. Sudah jelas dirinya sedang berada di tepian jurang, masih saja tak menyadarinya, bahkan berkali kali diingatkan pun tetap saja tak mau menggeser dirinya dari tepian jurang.
Tak ada manusia yang tak pernah berbuat salah. Dalam pepatah Arab Al-Insan mahallul khata’ wan nisyan; yang artinya manusia itu tempat salah dan lupa.
Mengakui dan meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan sekecil apapun tidak akan mengurangi harga diri seseorang.
Tak perlu malu meminta maaf jika telah berbuat salah, asal saja tak mengulangi perbuatan salah tersebut.
Seorang mukmin tidak boleh terperosok kedua kalinya ke dalam kesalahan karena ia mampu menggunakan akalnya serta kecerdasannya untuk belajar dari kesalahan yang telah dilakukannya sehingga tak mau kedua kalinya jadi objek (korban), apalagi jadi subjek (pelaku).
Tak perlu menutup—menutup kesalahan yang telah dilakukan karena hawatir dengan celaan manusia, atau tak memperoleh pujian manusia. Ketakutan mengakui kesalahan bisa membalikan pujian menjadi celaan. Bukan sekali Allah SWT menyeru manusia untuk segera menuju ampunan-Nya.
Manusia pasti ada salah. Salah ucap, sikap, laku lampah. Manusia tidak selamanya berada di jalan yang lurus. Satu saat pernah berada di jalan yang berbelok-belok, bahkan mungkin pernah terperosok ke lembah kehinaan. Namun Allah lebih senang mendengar suara dari orang yang mengaku salah, daripada suara tasbih dari orang yang merasa tak pernah berbuat salah.
Semoga saja Allah menyenangi suara kita, suara dari orang-orang yang mengaku salah di Hadapan-Nya. (*)
Komentar
Posting Komentar