Hukum Alam Menghukum Manusia

 


Oleh Toni Gempur


NEWSLETTERJABAR.COM--
Prolog:
Senyatanya pada sebagian besar bencana (malapetaka) yang terjadi di alam ini selalu bersebab-akibat dengan ulah manusia.

*

Dengan sering terjadinya bencana alam (malah yang tidak manusia perkirakan sebelumnya) yang memakan korban dan merugikan secara materi, seharusnya membuat manusia makin paham; harus ada pengakuan bahwa kekuasaan dan kecerdasan manusia itu ada batasnya, bahkan teramat kerdil untuk bisa mengendalikan alam.


Sudah saatnya manusia  menyadari, bahwasanya betapapun cerdasnya manusia untuk menguasai alam dengan hasrat nafsunya, pada saat tertentu alam tidak saja menjadi pembangkang, tetapi juga sanggup melawan serta menyerang manusia seakan hendak melumatkan tanpa ampun.


Silakan perhatikan peristiwa (bencana) alam yang telah terjadi, seperti gempa, tsunami, longsor, banjir bandang, dan bencana alam lainnya.


Di Aceh, pada 26 Desember 2004
telah terjadi peristiwa Tsunami atau gempa bumi Samudra Hindia berskala 9,1–9,3 yang tidak hanya menghanyutkan manusia, hewan ternak, serta menghancurkan pemukiman satu wilayah, tetapi juga mampu menyeret Kapal PLTD Apung ke daratan hingga sejauh 5 kilometer!
Menurut Kompas.com (26/12/2020), korban Tsunami Aceh adalah 230.000 jiwa.


Selain itu, pada 9 Januari 2021 di Desa Cihanjuang, Sumedang, Jawa Barat terjadi  bencana tanah longsor dengan korban 40 orang meninggal dunia, 3 orang luka berat dan 22 orang luka ringan, juga 1.126 jiwa terdampak  bencana longsor tersebut.


Dalam tragedi lainnya, akibat banjir bandang Sungai Cimanuk Garut, 20 September 2016; dari data awal di lapangan saat itu disebutkan, dalam sekejap banjir bandang menelan 26 korban jiwa, 23 hilang, serta 6.361 orang diungsikan. Seiring waktu berjalan data itu kian bertambah.


Terkait itu, terbukti bahwa pada banyak bencana manusia tidak berdaya menangkalnya. Bahkan dalam kasus-kasus tertentu, manusia hanya bisa pasrah tanpa daya menghadapi bencana.


Sudah sepantasnya manusia harus memahami dan sadar bahwa alam  memiliki naluri perlawanan; alam memiliki kekuatan yang dahsyat yang bisa dipertunjukkan dengan tuntunan instingnya yang takan pernah salah peruntukan.


Pada saatnya alam marah, dia takkan lagi peduli akan akibat yang terjadi karena kemarahannya itu. Manusia akan menjadi bulan-bulanan cercaan alam tak ubahnya pesakitan.


Setiap saat manusia dengan gampang disergap serta dikandaskan seakan harus menerima hukuman atas perbuatannya terhadap alam. (*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertemuan FORPIS dan Tokoh Masyarakat Garut Bahas Masa Depan Aktivitas Kepemudaan

Ahmad Bajuri : FORGAKI Gelar Konsolidasi Dukung Suskesnya Program Koperasi Merah Putih serta Revitalisasi di Jabar

Relawan Kujang Dewa Ucapkan Selamat dan Sukses, Dedi-Erwan Memimpin Jawa Barat