'Adil' Bahasa Universal
Oleh Idat Mustari*
NEWSLETTERJABAR.COM-- Allah SWT memerintahkan kepada setiap hamba-Nya untuk berbuat adil sebagaimana terungkap dalam Surat An-Nahl ayat 90 yang berarti, "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan".
Perintah Allah SWT tersebut terlihat sangat jelas dan tegas. Penegak hukum yang menegakan hukum dengan adil, balasannya adalah surga. Sebaliknya Penegak hukum yang tidak adil ini diancam dengan neraka.
Rasulullah SAW bersabda, "Hakim itu ada tiga macam, (hanya) satu yang masuk surga, sementara dua (macam) hakim lainnya masuk neraka. Adapun yang masuk surga adalah seorang hakim yang mengetahui al haq (kebenaran) dan memutuskan perkara dengan kebenaran itu. Sementara hakim yang mengetahui kebenaran lalu berbuat zhalim (tidak adil) dalam memutuskan perkara, maka dia masuk neraka. Dan seorang lagi, hakim yang memutuskan perkara (menvonis) karena 'buta' dan bodoh (hukum), maka ia (juga) masuk neraka". (HR Abu Dawud)
Begitupun pemimpin yang adil adalah salah satu dari tujuh golongan manusia yang akan dinaungi-Nya pada Hari Kiamat.
Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda, ”Ada tujuh olongan manusia yang akan Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu: pemimpin yang adil". (Muttafaq 'Alaih)
Adil menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak, berpihak pada yang benar dan tidak sewenang-wenang.
Sementara keadilan diartikan sebagai suatu sifat atau perbuatan atau perlakuan yang adil. Tidak adil berarti berbuat sewenang-wenang; menghukum orang tak bersalah dan pelakunya dalam terminologi Islam disebut zulm (zalim).
Keadilan adalah bahasa universal. Semua manusia memiliki hati nurani untuk memiliki rasa keadilan yang menyinari kesadarannya dan api yang membara dihatinya untuk hidup dengan adil; melaksanakan keadilan dan melindungi apa yang dipandang adil.
Sejauh itu, seringkali nafsu duniawi, kebencian, dendam, dan rasa amarah menutupi rasa adil ini sehingga kemudian berlaku tidak adil.
Allah SWT Berfirman: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Ma'idah : 8)
Keadilan harus selalu hadir dalam setiap aspek kehidupan, termasuk berkeadilan dalam berkasih sayang.
Itulah kemudian Islam tak melarang bagi siapapun untuk punya istri lebih dari satu, jika tidak bisa berbuat adil.
Bebuat adil bagi seorang suami yang memiliki istri lebih dari seorang, sebenarnya akan sangat sulit, sebagaimana kisah seseorang yang istrinya dua ditanyai sama istri tuanya, sebagai berikut:
Istri Tua: "Mas puasa nanti gimana? 15 hari pertama apa 15 hari kedua di rumahku? "
Suami: "Insyaallah setiap hari sampai selesai puasa aku akan di rumahmu terus."
Istri Tua: "Alhamdulillah kamu memang suami yang bijak. Tapi benar mas akan di rumahku tiap hari, terus kapan ke tempat dia ( Istri muda)?"
Suami: "Ke sana setiap malam aja habis buka puasa sampai imsak".
Istri Tua: (lempar kursi, piring panci, dll). (*)
*Pemerhati Sosial, Agama dan advokat
Komentar
Posting Komentar