Jangan Pukul Istrimu
NEWSLETTERJABAR.COM-- Pernah dan bukan sekali menonton berita di televisi tentang kekerasan suami pada istrinya. Ada suami yang mencekik istrinya hanya gara-gara sepele. Ada suami yang menghajar istrinya hingga babak belur, dan berita kekerasan lainnya yang dilakukan oleh suami ke istrinya. Miris jika suami-suami yang memukul istrinya adalah ber-KTP Islam.
Nabi SAW adalah seorang panutan yang tak pernah memukul istri-istrinya, bahkan beliau menegur suami yang memukul istri: "Janganlah seseorang di antara kamu memukul istri layaknya memukul hamba sahaya, padahal ia (para suami) menggauli (istri)-nya di ujung hari."
(HR.Bukhari-Muslim)
Islam mengajarkan pemeluknya (suami) jika seorang istri tidak taat ketika dinasihati, suami boleh memukul dengan tujuan kebaikan tanpa melukai atau meninggalkan bekas kesakitan pada fisik istri. “ _Dan pukullah mereka dengan pukulan _yang_ tidak_ _melukai_ ”. (HR Muslim)
Seorang suami yang memukul istrinya terlebih-lebih dilakukannya di depan anak-anaknya. Anak itu dipastikan akan goncang jiwanya. Jika perempuan hidupnya akan dihantui oleh perasaan takut. Jika lelaki ia akan tumbuh jadi seorang yang kasar.
Seorang suami yang ringan tangan kepada istrinya, tentu tak bisa dikategorikan sebagai lelaki yang baik. Nabi SAW bersabda, " _Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling_ _baik terhadap keluargaku_ ." (HR Tirmidzi)
Seorang Bijak berkata,” Jadilah suami yang baik. Janganlah pernah memukul istrimu dengan keras hingga melukainya. Kasihihanilah anak-anakmu, sekalipun dirimu tidak mengasihi pada dirimu sendiri.”
Sungguh Istri adalah segalanya seperti yang diceritakan oleh seseorang yang ikut RAKOR di Jakarta, seorang Vice President (VP) melakukan Riset kecil kepada para pegawai yang sudah berkeluarga pada saat Rapat di Aula kantor.
Dia lalu meminta 1 pegawai untuk maju ke depan white board.
VP: “Tolong tulis 10 nama orang yg paling dekat denganmu "
Lalu pegawai itu menulis 10 nama ; ada nama tetangga, orangtua, teman kerja, istri, anak, saudara, dst.
VP : "Sekarang silakan pilih 7 orang di antara 10 nama tersebut yang kamu benar-benar ingin hidup terus bersamanya."
Pegawai itu lalu mencoret 3 nama.
VP: “Silakan coret 2 nama lagi ! "
Tinggalah 5 nama tersisa.
VP: " Coret lagi 2 nama ! "
Tersisalah 3 nama yaitu nama Ibu, Istri dan Anak.
Suasana aula jadi hening. Mereka mengira semuanya sudah selesai dan tak ada lagi yang harus dipilih.
Tiba-Tiba Sang VP berkata : "Silakan coret 1 nama lagi..! "
Pegawai itu tertegun untuk sementara waktu,lalu dengan perlahan ia mengambil pilihan yang amat sulit dan mencoret nama Ibunya.Suasana semakin hening.
VP berkata lagi : "Silakan coret 1 nama lagi !"
Hati sang pegawai makin bingung. Suasana aula makin tegang. Mereka semua juga berpikir keras mencari pilihan yang terbaik.
Pegawai itu kemudian mengangkat spidolnya dan dengan sangat lambat ia mencoret nama anaknya.
Bersamaan dengan itulah sang pegawai tidak kuat lagi membendung air matanya, dan Ia pun menangis.
Awan kesedihan meliputi seluruh sudut ruang aula. Setelah suasana lebih tenang, akhirnya sang VP bertanya: "Kenapa kamu tidak memilih orang tua yang membesarkanmu dan tidak juga memilih anak yang adalah darah dagingmu. Kenapa kamu memilih istri, toh istri bisa dicari lagi, kan?
Semua orang di dalam aula terpana menunggu jawaban dari mulut pegawai itu. Lalu pegawai itu berkata lirih, “Istri saya ikut rapat disini, Pak!" (*)
*Pemerhati sosial,Agama dan advokat
Komentar
Posting Komentar