Berislam tapi Ragu

 


 Oleh Idat Mustari


NEWETTERJABAR.COM-- Miris jika ada orang yang beragama Islam (muslim) karena berteman dengan non muslim, malu-malu untuk berkata,”ijin mau shalat dulu,” di saat waktunya shalat atau karena demi menghargainya sampai tidak shalat. Padahal shalat menjadi pembeda dirinya dengan non muslim, seperti dalam hadis riwayat Muslim,”(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekufuran adalah meninggalkan shalat.” 


Miris jika ada orang yang beragama Islam meragukan agama Islam sebagai agama yang terbaik bagi dirinya, karena terpengaruh oleh  pendapat orang yang menyatakan bahwa semua agama itu sama.


Bagaimana mungkin dikatakan sama dari namanya saja sudah berbeda, Islam, Kristen, Buhdha, Hindu. Dari keyakinan kepada Tuhan pun beda. Orang Islam menyatakan “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah". Orang Kristen mengenal konsep Tritunggal, yang maksudnya Tuhan memiliki tiga pribadi: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Begitupun dengan orang Budha dan Hindu mempunyai pandangan, dan keyakinan masing-masing pada Tuhan.


Begitupun dari cara beribadah dan tempat Ibadahnya pun tidak sama. Orang Islam ke Mesjid. Orang Kristen ke Gereja. Orang Budha ke Vihara. Orang Hindu ke Pura. Mungkin saja yang dimaksud sama adalah bahwa semua agama mengajarkan kebaikan, melarang kejahatan. Meskipun  Kebaikan dan Kejahatan adalah bahasa universal seluruh manusia. Artinya seorang atheis sekalipun pasti menyatakan hal yang sama bahwa membunuh, merampok, mencuri adalah kejahatan. Menolong orang lain adalah kebaikan.


Meyakini bahwa semua agama itu sama sangatlah berbahaya, hingga kemudian pindah-pindah agama  dianggap sebuah peristiwa biasa. Seperti orang berpindah-pindah rumah kontrakan, kerjaan dari satu perusahan ke perusahaan lainnya atau  seperti orang yang di tahun lalu jadi anggota partai A dan kemudian tahun berikutnya ke partai B, padahal dalam Islam itu  ada konsekuensi hukumnya.


Saya dan mungkin juga anda yang  beragama Islam tidak ingin anak-cucu kita karena berpikir bahwa semua agama itu sama, dan saat bergaul dengan orang lain yang non muslim, ketika ditanya apa agamanya, kemudian menjawab,” Kamu maunya aku agama apa, yah aku sama dengan kamu, ikut saja.”


Dalam pemahaman saya bahwa seorang islam yang baik bukan yang meyakini semua agama itu sama, tetapi  yang meyakini bahwa agama Islam lah yang terbaik. Begitupun seorang  Kristiani  yang baik adalah yang meyakini agama Kristen lah yang terbaik. Seorang Buddhis yang baik adalah yang meyakini agama budha lah yang terbaik. Namun meskipun berbeda agama dan keyakinan tidak menyurutkan untuk duduk satu meja, bercengkrama, bertetangga, berteman, berbisnis (muamalah), tetap bersatu menjujung tinggi  persatuan kesatuan dalam Bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). 

Allahu' Alam. (*)


*Pemerhati Sosial,dan Agama,Advokat tinggal di Bandung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertemuan FORPIS dan Tokoh Masyarakat Garut Bahas Masa Depan Aktivitas Kepemudaan

Ahmad Bajuri : FORGAKI Gelar Konsolidasi Dukung Suskesnya Program Koperasi Merah Putih serta Revitalisasi di Jabar

Relawan Kujang Dewa Ucapkan Selamat dan Sukses, Dedi-Erwan Memimpin Jawa Barat